Benang Kusut

0d3ea07322e6ae3bef7d370c8c888c85
Credit : through pinterest

Semalam aku habis dari dokter untuk check up. Sebulan terakhir leherku kaku, kepalaku sakit yang kadang hanya sebentar kadang agak lama. Apalagi ketika mau tidur, rasanya ingin melepas kepala sebentar untuk istirahat. Belum lagi persendian yang sering nyut-nyutan. Fenomena ini membuatku sadar akan umur yang sudah tidak lagi muda haha. Kena angin sedikit bisa masuk angin, minum coca cola langsung batuk-batuk. Entah karena memang bawaan umur atau pola hidupku saja yang ngaco dan kurang sehat. Bisa jadi.

Keluhan-keluhan itu muncul bulan mei. Awalnya bagian belakang kepalku terasa sakit. Aku pikir karena bantalku sudah tidak layak untuk ditiduri lagi dan akhirnya aku beli bantal guling baru, yeaay!!

Bantal sudah baru tapi rasa sakit masih suka mampir apalagi saat tidur, terasa banget. Tidur tidak nyenyak, selalu kebangun di tengah malam. Pagi haripun badan terasa sakit dan mood sangat tidak bagus. Untung saja suasana di tempat kerja bagus walau mood agak kacau.

Sekian malam bersama bantal baru, kepala masih saja terasa sakit. Oke, artinya ini bukan masalah bantal.

Saat itu masih bulan puasa. Aku bersama teman janjian untuk belanja kebutuhan sekalian buka bareng. Sebenarnya aku was-was dengan keadaan yang belum aman untuk berkumpul karena covid, tapi karena kepepet, ya udah deh ya makan dulu karena emang udah laper.

Kelar makan kami langsung pulang. Selama covid aku terbiasa langsung meletakkan baju yang aku pakai walau baru aku pakai sekali (biasanya sih bisa aku pakai 2x kalau belum bau keringat hahaha) kemudian mandi. Sewaktu sedang asyik melakukan ritual mandi aku tersentak saat menyentuh leherku. Ada benjolan kecil tiba-tiba muncul di bawah telinga. Perasaanku kacau nggak karua-karuan. Segera aku menyelesaikan mandiku dan mencoba untuk tenang.

Aku juga sempat menangis karena.. aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku dengan kondisi wabah seperti ini aku makin takut. Aku selalu gelisah setiap kali mau tidur. Yang melintas dalam fikiran selalu saja hal-hal yang membuatku takut, seperti: kemungkinan hidup dan mati hehe.

Dalam beberapa pekan aku menjalani hari dalam ketakutan dan kecemasan. Sekali lagi, aku sangat bersyukur suasana tempat kerjaku amat sangat kondusif dan menyenangkan. Syukurlah.

Kemudian, tiba hari dimana setiap malam kepalaku terasa sakit. Tidak lama namun lumayan sering. Merencanakan untuk pergi ke klinik tapi ada rasa takut, ketika rasa takut hilang, eh, tidak berdaya untuk bangun pagi alias tidak ada semangat dan hilang minat.

Setelah sekian lama menahan rasa sakit dan mood ancur-ancuran, akhirnya semalam membisakan diri untuk ke dokter.

Pasien malam itu tidak terlaku banyak seperti biasanya. Tempat praktek agak berubah karena covid, jarak tempat duduk semuanya disusun berjauhan. Aku memilih tempat duduk yang agak jauh dari pasien lainnya.

Giliran namaku dipanggil. Aku masuk ruangan dan jarak antara aku dan dokter juga lumayan agak jauh jadi kami komunikasi semi teriak haha.

Aku mulai menceritakan keluhanku tapi aku masih agak takut untuk mengatakan bahwa ada benjolan di leher. Saat dokter mempersilahkan aku untuk berbaring di kasur barulah aku berani mengatakannya. Dokter hanya fokus memeriksa tensi, detak jantung dan mengetuk-ngetuk perutku di bagian lambung.

Aku lega juga khawatir. Ingin segera mendengar hasil diagnosa.

“Ya. jadi itu memang gangguang pada otot di bagian luar kepala ya bukan gangguan di dalam kepala. Jadi ototnya tegang karena banyak faktor.”

Aku amat sangat lega mendengarnya.

“Bisa jadi karena gangguan lambung ya. Banyak faktor.”

Ya. Selama beberapa minggu juga aku merasa mual setiap pagi dan mau makan. Saat tidurpun juga terasa tidak enak. Oke deh.

“Bisa juga karena banyak fikiran.”

“Betul dokteeeeer. Bulan kemarin saya banyak fikiran jadinya stress haha.”

Dan selama sesi ini kami banyak bercerita dan guyon haha. Aku bersyukur punya dokter seramah ini walaupun agak dingin kalau ngomong. Uhm, beliau juga… a little bit attractive loh hehe.

Jadi beliau adalah dokter yang dulu menanganiku saat anemia di tahun 2015. Aku hampir mati karena penyakit ini 😆

Selama covid masuk Indonesia pikiranku mulai kacau karena aku bingung bagaimana aku harus menjaga tubuhku agar tetap fit. Selain itu juga pekerjaanku selalu berurusan dengan deadline serta pressure yang membuatku kudu tenang agar hasil dari pekerjaanku tidak ngaco.

Okay, ternyata aku beneran stress dan sepertinya aku harus menjadwalkan liburan setelah covid berlalu haha. Aamiiiin. Semoga dilancarkan 😁

Setelah pulang dari rumah sakit, aku bisa tertawa-tawa dan tidur dengan nyenyak karena menerima obat membuatku tenang.


2 thoughts on “Benang Kusut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s