Jam 00.06

Kapan hari saat aku lagi asyik melakukan ibadah di kamar mandi (boker), seperti biasa, mendadak kerasukan arwah Socrates dan menjadi thinker.

I call my self a Toilet Thinker.

Sudah belasan tahun aku menjalani ibadah puasa. Dari keseluruhan ibadah puasa kayaknya belum ada yang bener-bener khusyuk menikmati puasa.

Mulai dari diam-diam minum karena kehausan abis pulang sekolah (fyi, aku harus menyusuri jalan kecil dan naik tangga dulu menuju rumahku. tangganya gak banyak, hanya tinggi-tinggi bikin bengek), diam-diam makan jajan yang menggiurkan, solat bolong-bolong, taraweh bolong-bolong, dan…. uhm, baru-baru ini karena hal lain hehe.

Bejat sekali diri ini sebagai muslim.

Dulu, sebelum mens aku males banget solat. setelah menspun juga masih males haha.
Setiap disuruh solat aku gak pernah ngelakuin. Aku malah bergumam sambil minum air di dapur, “gak papa. aku kan masih kecil, jadi gpp kan ya Allah?” 🤣

Dulu tanpa solat aku masih merasa bahagia. Tidak ada pikiran yg berarti di kepala dan hati ini. Yang aku tahu hanya sekolah, main game, lulus, SMA dan kuliah. Setelah kuliah ku ingin kerja, gajian dan beli ini dan beli itu. Kenyataannya? Ooh, tentu saja sesuai alur dengan banyak tambahan episode yang menyebalkan. Aku tidak tahu bahwa kehidupan setelah dewasa akan membuatku hampir gila.

Saat itulah aku mulai ingat solat. Aku mulai mencari tuhan dan menjadikannya sebagai tempat perlindungan (ceileh).

Aku mulai rajin solat walau masih ada yg terlupakan yaitu solat subuh.

Bangun pagi adalah rutinitas yg berat bagiku.

Kata Ibu, telingaku dikencingi setan. Tidak Ibu, aku hanya setres tinggal di dunia ini sehingga membuatku tertidur lama.

Apa yg membuatku memakai kembali mukenahku yg pernah ku tinggal lama setelah lulus sma? Gatau, aku lupa. Mungkin karena saat kuliah aku banyak waktu kosong menjelang waktu solat dan mungkin karena beberapa teman-teman sekitarku yang punya pengaruh baik.

Mereka selalu memberikan wejangan-wejangan yang enak didengar dan mau mendengarkan tanpa judge.

Wow cerita pengalaman mereka sungguh luar biasa. Apakah mungkin mainku saja yg kurang jauh atau pergaulanku aja yg kurang luas? Bisa jadi.

Saat ini aku sudah kerja, penyakit itu muncul lagi. Malas solat.. hadeuh, makin tua makin banyak aja setannya.

Seandainya aku terlahir di keluarga nasrani atau katolik atau agama lainnya, apakah aku juga akan malas ibadah seperti ini? Kira-kira apa ya yg membuat aku malas solat?

Saat kecil aku pernah berfikir, kenapa aku terlahir sebagai muslim? Jika aku mengganti agamaku, orang tuaku pasti ngamuk. Tentu saja. Tapi, saat aku bertanya seperti itu, ibuku hanya diam dengan wajah datar. Beliau tidak bisa menjawabnya. Mungkin kalau saat ini aku bertanya seperti itu jawabannya bakal ngegas dan pasti aku di kafir-kafirin 😆

Nggak kebayang kalau hal ini terjadi padaku ketika aku punya anak nanti. Aku juga gak tau bakal jawab apa.

Mungkin bakal aku jawab, “aww my baby, setiap agama punya kewajibannya masing masing. Kewajiban seorang muslim memang berat dijalankan, tapi bisa melatih kita menjadi manusia yg sabar. Puasa itu berat jika dilakukan saat kita beraktifitas contohnya bekerja. Belum lagi kamu puasa di Eropa yg bisa belasan jam puasanya. Tapi kalau udah biasa ya santai aja.”

Cakep deh ngayalnya 😆

(Im literally cengar cengir bayangin siapa lakik ogut ntar hahahaha)

Mungkin suatu saat bakal dilanjut lagi. Aku mau tidur cepet biar besok bisa ritual memanjakan rambut.

Selamat malam 😗


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s