Untuk Apa Ada Romance?

Hallo.

Post ini sudah ngendon selama setahun di notes. Aku tulis tahun 2019 dan memang rencananya akan di publish malam itu juga tapi ternyata 2019 bukan tahunmu, nak πŸ˜€

Siapa yang nggak suka nonton film? nggak ada ya? Semua suka nonton film. Bahkan bisa membuat perasaan terombang-ambing karena sebuah film. Menitikkan air mata hingga sembap, kesal, tertawa terbahak-bahak, terpana oleh warna dan adegan yang di tayangkan, semua karena film. Bahkan jatuh cintapun bisa hanya karena menonto film (yaa itu lah kami para fangirls yang jatuh cinta pada tokoh fiktif namun tampan dan cantik).

Kadang kitapun bisa terobsesi pada sebuah karakter fiksi, ya kan? Ada beberapa karakter yang membuatku berhayal menjadi karakter tersebut, yaitu Enchanted dan beberapa film musical. Aku berhayal menjadi salah satu pemain orkestra di film itu dan membuatku bercita-cita menjadi seorang violin dan flute expert. Entah lah bisa terwujut atau tidak. Paling tidak bisa menyentuh alat musiknya saja sudah alhamdulillah πŸ˜€

Sewaktu kecil aku jarang menonton film Hollywood karena keterbatasan akses. Aku bisa nonton film-film besar seperti itu jika kakak sepupuku menyewa dvd atau cd di persewaan dan hanya pada saat hari libur saja.

Waktu itu aku nonton Gost Ship. Sebenarnya ada banyak film yang dia sewa tapi aku nggak dibolehin nonton karena katanya aku masih bocah. Sebel deh.

Dulu aku gak pernah nonton film genre romance. Ya itu, masih bocah jadi genre itu terlarang. Dulu aku kira film romance adalah film yang berisi adegan sex setiap menitnya (bokep). Sangking gak pernahnya nonton film romance haha.

Setelah aku smp, aku menghabiskan waktu ku untuk menonton anime, baca komik dan main game. Yang aku ingat saat itu hanya film-film Indonesia seperti Susana, aadc.. Oh! Dan novel teenlit.

Lulus smp aku melanjutkan sma ku di pondok pesantren. Selama 3 tahun aku terisolasi di pedalaman desa di sebuah hutan haha. Selama 3 tahun aku minim informasi kecuali informasi keagamaan πŸ˜‚

Setelah lulus sma, aku sampe gak mudeng saat beberapa teman membicarakan Harry Potter dan Twilight. Sungguhan. Yang aku tahu hanya band underated macam Kangen Band, st12, Hijau Daun, Ridho Roma dll dll

Kuliah adalah masa kejayaanku melihat dunia luar. Baaaanyak sekali informasi yang nggak aku ketahui. Aku berasa orang dari jaman majapahit yang terlontar ke masa depan. Masa awal kuliahku yang sering banget aku habiskan di warnet hingga larut malam bahkan subuh karena mengerjakan tugas dan mendownload film. Namanya warnet Lilo, surga perfilman dan game ada disana.

Aku mendowload semua film yang menurut aku menarik, mulai dari horor, action, comedy dan kartun. Hanya satu genre yang tidak aku download, romance.

Pikiranku masih sama saat aku SD, romance adalah film dewasa dan aku gak bakal tertarik menontonnya. Aku sendiri juga tidak tahu film porno itu seperti apa tampilannya.

Suatu malam, saat jagat pertelevisian masih menyajikan film-film bagus pada malam hari, aku nggak sengaja memilih channel yang sedang menayangkan film romance. Aku nggak tahu judulnya apa saat itu. Adegan yang aku ingat adalah seorang lelaki yang melompat ke kolam yang ternyata dangkal sehingga dia pingsan atau mati aku lupa. Sudah, yang aku ingat hanya itu. Selanjutnya akupun tidur dan tidak menonton hingga habis.

Suatu malam, salah satu anak kos yang juga temanku sedang menonton film. ikutlah aku nimbrung. Film sudah berjalan 30 menit dan aku melewati awal dari cerita tersebut. Awalnya aku tertarik karena melihat karakter gadisnya memakai dress vintage. Tanpa sadar aku menghabiskan akhir dari film tersebut dengan tetesan air mata. Sang gadis mati karena penyakit, dan lelaki yang menyukainya pun terpukul oleh kepergian gadis itu. Akupun sakit hati karena ceritanya begitu suram 🀣
Tapi sejujurnya aku suka dengan film yang endngnya sengsara haha.

Beberapa hari kemudian aku meminta copyan film tersebut untuk stock selama liburan. Aku tidak sabar menonton awal dari kisah tragis tersebut. Dan film itu ternyata film yang tidak aku tonton dengan tuntas di tv beberapa waktu lalu. What a coincidence.

Menceritakan tentang remaja rebel yang jatuh hati pada gadis baik-baik dan alim. Lelaki yang awalnya liar akhirnya menjadi lunak ketika bertemu dengan gadis ini, dan akhirnya jatuh cinta. Klise? 😁

Cerita ini mengingatkan ku pada kisah percinta temanku. Temanku (cewek) memang bukan tipe yang kalem dan alim tapi dia baik hati dan supel. Pacarnya ini (sekarang mantan) pendieeem banget. Aku pernah ngajak ngobrol setiap kali bertemu tapi gak berakhir menyenangkan. Agak canggung dan dia tipe lelaki dingin yg hanya menjawab dengan jawaban “hahaha” atau “hehehe”. Dia akan banyak ngomong kalau pertanyaan mengenai fotografi dan kamera (ya, dia fotografer).

Temanku akhirnya curhat bahwa mantannya ini tipe lelaki yang kasar dan manja. Dia merasa bahwa sifatnya ini buruk tidak terkecuali pada orang tuanya. Mungkin karena temanku dari keluarga yang jawa banget kali ya jadi tata krama itu wajib. Sekian tahun berpacaran dengannya, usaha dia nggak sia-sia. Perlahan mantannya ini menjadi lelaki yang lebih ramah dan sopan pada siapapun termasuk orang tuanya. Perubahan yang paling menojol pada mantannya adalah intonasinya. Dulu dia suka menyentak, sekarang berkurang. Memang, tidak semua bisa berubah tapi bisa diminimalisir. Mau gimana lagi, kalau memang sudah default dari lahir ya gak bakal bisa dirubah kan?

Kini merekapun telah hidup dengan pasangan masing-masing πŸ™‚

Namun, gossip paling sedep adalah caption ig si mantan. Temanku ini tau banget mantannya nggak bakal menulis caption-caption gombal di ignya. Dia bukan tipe lelaki pengobral kata-kata manis, quote-quote super ala bucin dll 🀣🀣
aku pun juga heran membaca beberapa quote mantannya temenku ini, cringe banget 🀣🀣

Kamipun berasumsi bahwa itu pacarnya (saat itu) yang ngetik, bukan dia πŸ˜†

Romance.
Sepertinya bukan konsumsiku menonton film romance. Tapi aku suka mendengar kisah-kisah manis teman-temanku bersama kekasihnya.

Romance hanya fiksi. Romance yang membuat hati berbunga-bunga hanya fiksi.

Mungkin karena sampai sekarang aku belum merasakan kisah romance bersama seseorang kali ya haha. Aku gak benci romance kok, aku masih nonton beberapa film romance yang masih bisa aku terima haha.

Romance bukan untukku karena hal itu.. sepertinya, gak akan terjadi padaku. Tapi bukan berarti aku tidak ingin, hanya saja adegan di film-fil itu terlalu berlebihan untuk dibayangkan.

Sesungghuhnya aku lebih suka film romance dengan ending yang tragis. Contohnya Gone Girl, The Girl on The Train.. ada lagi tapi yang aku ingat hanya dua itu.

Oya, aku suka romance kalau filmnya bertema gay hehe. Tapi sejauh ini yang aku nonton hanya anime, gay romance movie aku agak trauma karena pertama kali nonton agak mengacaukan pikiran haha.

Waah panjang.
Sekian lama nggak bercerita akhirnya bisa puas juga bercerita. Semoga ada waktu lagi untuk bercerita.

Salam sayang dari kota orang yang sedang dingin ❀️


2 thoughts on “Untuk Apa Ada Romance?

  1. Hai Chamomile, salam kenal.
    Kalo aku dari dulu seneng nonton film, karena Papa yang suka ngajak nonton TV.
    Apalagi pas ada acara Bioskop Trans TV, wuuh mau film populer atau nggak, yaudah tonton semua.
    Cuma karena nontonnya sama Papa, aku juga jadi cenderung suka film yang action/thriller (walaupun real life nya penakut akut) wkwk.
    Sampe pas SD aku suka banget sama film Titanic karena seneng ngeliat banyak air.
    Eh, rewatch pas SMA (gak sengaja), aku nangis dong karena tau film itu aslinya romance sedih gitu. (Pas rose & jack ngambang di atas lemari)
    Hadeeeeh..

    Sampe sekarang, genre yang dominan buatku ya action/thriller/mystery. Apalagi kalo ada bumbu comedynya.

    Aku juga seneng sih nonton romance,
    Tp lebih ke anime dan genrenya romance comedy (shoujo). Asli ga ada obat itu mah, sukaaak wkwk.

    Btw,
    Kamu fujo yaaa????? oWo

    Like

    1. Hi mba cantik berjilbab ungu πŸ’œ
      Aku juga suka banget nonton film. Semenjak Bioskop Trans TV ada, makin rajin ngintip ada film bagus atau nggak haha.

      Iya, kalau nonton sama orang tua memang asik ya nonton film action atau comedy πŸ˜†

      Film Titanic memang menyayat hati, romantis tapi tragis. Apalagi adegan kakek-nenek yg memutuskan mati bersama.. Haduuhhh..

      Kapan2 posting tentang film aja mba, kayaknya seru πŸ™‚ tak tunggu yaa haha

      Aah samaa. Jarang punya romance. Kalau romcom boleh lah ya. Suka romance classic?

      Wah… Otaku mba? πŸ˜†
      Dulu aku juga suka nonton anime romance comedi tp sekarang udah pensiun haha. Tapi masih suka nonton anime yg jaman dulu.

      IYAAAAAA AKU FUJOSHI MBAAA 🀣🀣🀣
      Dulu fujo akud sampai di baca semua judul manga yaoi di web lool. Hobinya ngeship ehehe.. Sampe sekarang mah masih suka ngeship hihihi.. Salam fujo ya mba πŸ˜†πŸ˜

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s